Categories
Uncategorized

Rekomendasi Podcast Favoritku

Podcast Kepo Buku

Podcast Buku Kutu

Podcast Rintik Seduh

Podcast Kepo Email

Thirty Days Of Lunch Podcast

Podcast Subjective

Categories
Uncategorized

Memandang Orang

Kalau boleh jujur, aku tipe orang yang melihat orang dari sisi pencapaiannya. Bahkan ketika aku bilang semua orang harus dipandang sama, semuanya harus dihargai apapun posisinya, dalam hati tetap saja orang yg memilik pencapain tertentu terlihat lebih tinggi dimataku. Semisal ada temen yang bisa kuliah luar negeri, ahli dalam sains, pembisnis sukses, atau ahli dalam hal lainnya.

Aku rasa bukan cuma aku saja yang beranggapan seperti itu. Sampai akhirnya aku berpikir sendiri, gmana caranya mengubah pandangan itu? Meski itu hal yang wajar, dimana suatu pencapaian bisa diraih karena bekerja keras dan seseorang berhak mendapat keistimewaan atas pencapaiannya tersebut.

Tapi aku sendiri ngerasa perilaku, sikap yang sebenarnya umum atau menjadi hukum alam dikehidupan sosial kita telah memberikan bentuk hierarki kelas. Dimana terdapat kelas yg dikenal sukses, kelas biasa saja, atau kelas yg disebut gagal.

Categories
Uncategorized

Setting PHP 7.3 pada macOS Mojave (menggunakan homebrew)

php -v
brew list | grep php
brew update
brew upgrade
brew install php@7.3

echo 'export PATH="/usr/local/opt/php@7.3/bin:$PATH"' >> ~/.bash_profile

echo 'export PATH="/usr/local/opt/php@7.3/sbin:$PATH"' >> ~/.bash_profile

source ~/.bash_profile

php --version

php --ini

pecl install xdebug

ref : https://vyspiansky.github.io/2018/11/08/set-up-php-7.2-on-macos-mojave-with-homebrew/

Categories
Uncategorized

Sebelum 5 Detik

Ceritanya asik googling buku apa yang banyak direkomendasi sama orang-orang, dan ketemu satu buku menarik berjudul The 5 Second Rule. Setelah baca reviewnya bagi saya ini menarik. Buku ini mengenalkan konsep ‘bertindaklah sebelum lewat 5 detik’. Kenapa ? karena kalau dipikir-pikir kita memang bertindak sekurang-kurangnya 5 detik setelah kita berpikir, dan jika lebih dari 5 detik biasanya pikiran kita berpindah ke pikiran yang lainnya. Mungkin itu sebabnya secara impulsif kadang -kadang kita sangat termotivasi, tapi begitu besok tiba semangat itu pun hilang.

Saya sendiri sering merasakan hal ini, saya bukan type orang yang bisa mengikuti rule/planing yang saya buat, semisal setiap hari baca buku selamat 1 jam, atau menulis sekali seminggu, semua itu pernah saya tuliskan tapi gagal total.

Tapi menariknya bukan berarti berakhir tanpa berbuat. Secara gak saya sadari aturan 5 detik itu sering juga membuat saya melakukan hal. Saya tiba-tiba sering ngikutin tutorial coding, tiba-tiba saya nulis artikel. Kalau sebelmnya saya merencanakan seminggu 2 kali, malah kalau gak saya rencanakan bisa lebih dari 2 kali.

Konsep 5 detik ini sekarang semakin saya rasakan, dan mulai menerapkannya secara sadar, artinya saya ingin menggunakan konsep ini murni atas pengendalian pikiran. Bagaimana itu? kadang membayangkan kita menjadi dua, diri kita sebagai subjek dan objek. Seakan-akan kita memerintahkan diri kita untuk melakukan hal tertentu. Kesadaran itu seakan-akan memberi tantangan ‘masak kamu gak bisa memerintah dirimu sendiri’, akhirnya kita menerima dan menjalankan perintah dari diri kita sendiri. Memang manusia itu unik, kita yang punya diri kita sendiri, tapi kebanyakan aktivitas kita seperti bukan kita yang memerintahkan. Sering kali kita bertindak dari satu tindakan ke tindakan lainnya seperti air mengalir, tanpa kita sadari waktu telah habis. Pagi berubah jadi siang, siang berubah jadi malam.

Dulu pas waktu ngerjain skripsi, kalau diingat-ingat pernah merasakan hal ini. Dalam hati ada rasa memerintahkan diri sendiri ‘buka labtop, buka ms world dan kerjakan’. Percayalah yang selama ini mengganggu kita, yang membuat kita menunda itu mungkin karena kita overthinking.

Sebenarnya point penting dari konsep The 5 Second Rule ini, bagiku bukan pada angkanya 5 nya. Intinya adalah lebih baik lakukan sekarang selama motivasi itu ada.

So kalau ada kita punya inspirasi, jangan tunda-tunda laksanakan segera. Karena begitu kita udah melakukan tindakan berarti sudah ada awalan yang tercipta, kalau sudah ada awalan yang tercipta/terbentuk, itu jadi modal untuk tindakan selanjutnya, karena kita merasa harus melengkapi atau menyelesaikan apa yang sudah kita mulai.

Categories
developer IT learning programmer self-development

Tips Supaya Terus Berkembang, Terbukti Ampuh


Kadang kala kita sering kelupaan untuk sejenak mengukur diri, baik itu pekerjaan, sekolah atau hal lainnya. Bisa jadi karena terlalu asik hanya mengikuti alur. Padahal kalau kita lupa mengevaluasi atau mengukur pencapaian, bisa jadi kita akan ketinggalan jaman, misal skill kita yang udah gak relevan, atau harusnya kita udah mencapai titik tertentu.

Oleh karena itu, disebuah perusahaan ada istilah KPI (Key Performance Indicator), KPI adalah semacam alat ukur untuk mengukur pencapain sebuah perusahaan. Yang diukur macam-macam, mulai dari perfomance karyawan, profit dari hasil penjualan, dll. Kalau pelaksanaannya KPI ini bisa dilakukan harian, minggua, bulanan, dan tahunan. Tujuannya ya supaya perusahaan tetap berjalanan dengan benar.

Kalau disekolah biasanya ada raport, dikuliahan ada IPK. Semua itu tujuannya untuk mengukur pencapaian. Sebenarnya, pembahasan pengukuran ini mungkin terdengar klise, atau udah gak asik lagi karena udah terlalu sering kita dengar. Tapi karena kita kebiasaan mendengar petuah, akhirnya petuah itu menjadi terbiasa jugak bagi kita, bukan sesuatu yang menggugah, bukan sesuatu yang membekas. Mungkin karena itu ya, Manoj Punjabi, CEO MD Production di chanel youtuber Boy William mengatakan selalu mengulang-ngulang kuote favoritnya. Intinya adalah, kita terlalu sering mendengar petuah, kata-kata motivasi, karena keseringan jadinya udah gak terasa bermakna lagi. Padahal semua tips-tips orang sukses itu semuanya benar. Semisal, kalau mau sukses harus :
1. Disiplin
2. Jangan buang-buang waktu
3. Tekun/Gigih/Terus Menerus
4. Kerja Keras
5. Butuh waktu yang lama, nikmati proses, gak ada jalan pintas.

Semua kuote kuote diatas itu rasanya seperti ampas, padahal kalau di bedah, diresapi, terus di implementasikan didalam kehidupan pasti mendapatkan hasilnya. Karena kerja keras yang dilakukan secara terus menerus untuk mencapai tertentu pasti tidak menghianati hasil, pada titik tertentu pasti membuahkan hasil seperti kata petuah ‘air setitik bisa mengukir batu’.

Kembali ke pembahasan awal tentang kenapa pengukuran itu penting. Kalau saya pribadi dalam beberapa kasus, udah dari dulu menerapkan pengukuran ini. Contohnya tahun lalu saya ingat, ketika muncul keinginan kuat untuk mulai bekerja, pikiran dan situasi saya saat itu sudah memaksa untuk harus segera bekerja. Sebelum saya apply pekerjaan tentu saya mengukur diri dulu, apakah saya akan diterima kerja dengan kemampuan seperti ini? Setelah itu saya pun membuat patokan, saya harus bisa mencapai keahlian yang sudah saya tetapkan. Bagaimana saya menyusun ketentukan atau patokan tersebut? Tentu saya mencari referensi dulu di internet, saya mulai dari kata kunci “Keahlian yang harus dimiliki programmer di level junior” dari hasil browsing saya pun menuliskan listnya, sebelum apply pekerjaan saya harus bisa :
1. Mengulang-ngulang pelajaran Algoritma dan struktur data 10 %
2. Bisa dasar-dasasr CRUD dengan PHP murni, ajax, dan jquery, 10 %
3. Bisa CRUD dengan Laravel, Ajax, 10 %
4. Mengerti dan bisa membuat autentikasi, 10 %
5. Bisa membuat Rest API, 10 %
7. Bisa dasar-dasar GIT, 10 %
6. Bisa membuat fitur pengiriman email, 10 %
7. Bisa membuat Schedule dan Cron Job, 10 %
8. Bisa deploy web, 5 %
9. Baca-baca pengalaman wawancara, 5 %
10. Mempersiapkan portofolio dan CV, 10 %

Sepuluh point diatas adalah patokan yang harus saya capai sebelum saya apply lowongan pekerjaan. Awalnya point tersebut hanya berupa list, kemudian saya tambahin poin dalam bentuk persen dan jika dijumlahkan totalnya 100%. Jika saya mencapai target tersebut saya menganggap diri saya sudah bisa dikatakan programmer level junior.

Dan pas hari-H alhamdulillah saya pun menyelesaikan test yang diberikan dengan baik. Mungkin penasaran apa soalnya yang diberikan ? cuma disuruh gini :
1. CRUD php murni
2. CRUD dengan laravel
3. Membuat loading dengan ajax saat load data.
4. Membuat tampilan sederhana dengan css grid
5. Kemudian hasilnya push projek tersebut ke github (dengan ketentuan yang diberikan)

Dan alhamdulillah saya pun diterima kerja. Lalu bagaimana setelah itu ? saya pun ditarget bisa menyelesaikan tugas tertentu, codingan saya pun direview, apakah sudah sesuai standar dan disitu saya mengenal istilah spageti code (script amburadul), apakah script atau proses query boros? bagaimana cara berkomunikasi dengan baik, bagaimana supaya selalu sadar dan gak baperan, bagaimana jika ada kendala, bagaimana menumbuhkan sikap inisiatif, dan masih banyak lagi yang gak mungkin saya sebutkan disini.

Dengan melakukan pengukuran ke diri sendiri, kita akan tahu sejauh apa kemampuan diri kita sendiri. Secara umum apapun bidangnya rumusnya sama, kita harus melakukan pengukuran sejauh mana kompetensi kita. Dan satu hal yang mesti kita sadari, khususnya fregraduate, pendidikan formal hanyalah satu dari banyak variabel yang menambah point kompetisi kita. Anggaplah poin seseorang dikatakan berkompeten itu nilainya 10, maka kita bisa beri point pendidikan itu 5, kemudian magang 3, portofolio dan lain-lainnya 2. Tentu point tersebut hanya acak saya saja, masing-masing boleh punya penilaian sendiri. Karena itu, bagi mahasiswa yang baru lulus harus punya inisiatif melengkapi yang masih kurang. Caranya bisa dengan magang, bisa dengan mengerjakan projek, ikut kegiatan sukarela atau kegiatan lainnya yang bisa menambah komptensi dan nilai plus.

Begitulah cara saya pribadi melakukan pengukuran. Untuk saat ini saya ingin naik level setidaknya tingkat menengah, beberapa patokan yang harus mulai saya pelajari :
1. Serverles
2. Membangun mircroservice sederhana
3. Membangun server dengan golang
5. Payment Gateway

Karena itu sekarang lagi menyisihkan uang untuk berlangganan AWS Amazon, belajar docker, belajar kubernets, mendalami nginx, mendalami segala macam payment gateway seperti midtrains, stripe, gopay dll. Kapan-kapan kalau sempat saya share patokan versi yang lebih detail.

Tips lainnya yang tidak kalah penting adalah berbagi, bsia melalui tulisan, video, atau berupa proyek. Pengalaman pribadi, begitu saya post satu artikel dan saya share di facebook, linkid biasanya saya langsung mendapatkan fedback dari teman-teman, dari guru-guru yang senior. Kalau saya tidak menulis mungkin saya gak dapat fedback tersebut.

Mungkin itu saja tulisan kali ini, semoga berfmanfaat, syukur-syukur habis baca tulisan ini langsung menerapkannya haha.

note : tulisan ini tidak bermaksud untuk menggurui, hanya sebagai refleksi untuk diri sendiri, jika ada yang merasa bermanfaat alhamdulillah












Categories
bisnis developer digital assets keuangan programmer

Kenapa Programmer Harus Belajar Bidang Lainnya ?

Programmer adalah pekerjaan yang bertugas mendigitalisasi sebuah masalah, sehingga nantinya pekerjaaan menjadi lebih mudah, bahkan kalau bisa autopilot dan lebih cerdas, kalau kata dosenku ‘smart apps’. Progammer harus mentransformasi masalah dilapangan yang ribet menjadi simpel, yang butuh lama menjadi cepat dan efisien, yang awalnya proses bisnisnya mahal menjadi murah, itulah inti dari pekerjaan dunia IT.

Tidak bisa dipungkuri sebagai seoarang programmer seringkali rasanya ingin membuat sesuatu semisal produk sendiri. Namun karena sebagian programmer mainnya diteknikal saja jadi bingung mau menyelesaikan masalah apa. Kita tahu bahwa masalah itu ada ada di masing-masing domain atau bidang masing-masing. Seorang programmer jika hanya berkutat di dunia teknikal saja maka hanya akan bertemu masalah seputar teknikal seperti bagaimana membuat web/app menjadi lebih cepat, lebih mudah semisal page builder, atau kalaupun punya ide bisnis pasti tidak jauh dari jasa pembuatan website, software house dll.

Bukan berarti di dunia IT tidak banyak yang bisa diselesaikan, seperti pada paragaraf sebelumnya setiap domain/bidang pasti punya masalah tersendiri. Namun disisi teknikal IT itu sendiri agak sulit untuk mendapatkan ide juga sulit membangunnya. Biasanya masalah yang ada di sisi teknikal pengembangan perangkat lunak itu pure digital, atau produk digital. Sebagai contoh, produk pure digital dan murni dari masalah sisi teknikal pengembangan software itu antara lain, Github, Gitlab, membuat teknologi modern seperti teks editor Sublime, Vim, Visual Studio, atau teknologi modern seperti Vue, React, Gatsby, dari sisi server ada Kubernetes, Elasticsearch. Itu merupakan sedikit contoh ide yang lahir dari masalah yang dihadapi disisi teknikal pengembangan perangkat lunak. Bagimana susahkan ? bahkan terkadang hanya perusahaan raksasa yang mampu melakukan ini.

Lalu apakah dengan menciptakan tool open source seperti itu termasuk startup ? sekarang trend pendanaan startup tidak hanya berlaku di startup yang bersifat menyelesaikan masalah dilangan seperti gojek, ecommerce, atau bidang lainnya. Tapi juga merambah kesisi teknikal, sebagai contoh teknologi static generator seperti Gatsby baru saja mendapatkan pendanaan dari ventura. Bahkan tidak hanya dengan cara itu, membuat tool/teknologi bisa dimonetize dengan konsep patreon semacam dukungan untuk pengembangan sehingga pengembang bisa fulltime mengembangkan toolnya, contohnya Evan You creator VueJS. Ada juga creator Laravel membuat ekosistem bisnis spesial laravel dengan mendirikan Laravel Foundation dengan produk-produk seputar laravel. Dan di github ada konsep developer sponsorship, jika di youtube kita bisa mendapatkan uang dengan cara membuat konten, pun sama dengan github kalau kita bisa membuat tool yang banyak membantu orang, dengan banyak bintang maka bisa monetize, karena itu belakangan banyak developer banting stir dari pekerjaan kantornya menjadi full ngurusin open source nya.

Dari pembahasan sebelumnya kita tahu bahwa setiap tool yang mereka ciptakan lahir dari masalah yang mereka hadapi, mereka menemukan masalah karena terjun sedalam-dalamnya dibidang itu, semakin kita terjun pada domain tertentu semakin jeli kita melihat masalah, sehingga memungkinkan untuk diselesaikan.

Oleh karena itu sebagai programmer, jika ingin membuat produk belajarlah hal atau domain lain. Kita tidak bisa membuat sistem pencatakan keuangan jika kita tidak paham masalah keuangan, kita tidak bisa membuat sistem pembayaran kalau kita tidak mendalami bidang itu, kita tidak bisa mengembangkan aplikasi medis, kalau kita tidak paham dunia medis, kita tidak bisa mengembangkan aplikasi manajemen marketing kalau tidak tidak pernah memasuki dunia itu.

Terakhir, setiap domain/bidang itu ibaratkan rumah, dimana rumah memiliki masing-masing pintu, untuk tahu isi rumah kita mesti membuka pintu dan masuk kedalamnya, lalu tergambarlah isinya. Begitupun hal jika kita seorang programmer ingin membuat produk digital, kita harus masuk ke domain tersebut sehingga tergambar apa yang mau kita buat.

Lalu bagaimana caranya kita mendalami domain tertentu, caranya banyak-banyak mencoba, mereview produk digital orang lain, kita bisa tahu dari interface nya, tapi yang saya sarankan belajarlah dari orang lain, masuklah dulu ke perusahaan yang sesuai dengan minat kita, misal minat kita di bidang ecommerce, masuklah ke perusahaan ecommerce, dengan begitu dengan modal mengambadi di perusahaan tersebut kita akan mengetahui masalah-masalah yang dihadapi di ecommerse tersebut, sehingga suatu saat kamu bisa mengembangkan produk kita sendiri dengan modal pengetahuan kita dibidang e-commerse. Karena logikanya, orang yang udah berpengalman bertahun-tahun didunia e-commerce pasti lebih sukses mengembangkan startup dari pada programmer yang terjun langsung dengan hanya bermodal kemampuan coding saja.

Dan itu sudah terbukti, baru beberapa bulan starup Ula bergerak B2B usaha mikro, kecil, menengah langsung mendapatkan pendanaan sekitar 148 miliar. Kok bisa ? ternyata kekuatan atau nilainya sendiri ada di foundernya. Para investor sangat yakin foundernya pasti sukses membawa Ula menjadi lebih sukses karena foundernya telah bertahun tahun berkecimpung didomain tersebut. Mereka adalah mantan enginer Amazon, Lazada dllnya.

So, jangan lupa belajar hal lain.

Categories
life

Privilege is Metter – Lutfy

Tulisan kali ini kontribusi dari : Ana Lutfi, Content Creator.

Keterangan foto tidak tersedia.
salah satu karya Ana Lutfi

Privilege is metter, begitulah sebuah ungkapan memberitahu kita bahwa privilege (hak istimewa) itu sangat penting.

Sebuah penelitian bahkan mengatakan seorang anak yang terlahir dari keluarga yang berada (baca: sugih, kaya) memiliki kesempatan untuk tetap hidup dalam kondisi kaya yang langgeng hingga ia dewasa, itulah hak istimewa yang dia peroleh tanpa ia minta. (Kecuali jika anak itu jadi brengsek dan jatuh miskin seperti kisah-kisah azab Ind*siar).

Sementara yang lahir dari kalangan blangsak, atau minimal keluarga biasa tidak memiliki peluang yang sama. Dan itu memang real jika dilihat dari segi peluang untuk mendapatkan akses pendidikan, kesehatan, dan pergaulan sosial yang menunjang ke arah kemakmuran.

Tapi perlu diingat, ketimpangan ini hanya gambaran bahwa ada hal-hal yang memang tidak bisa manusia kendalikan, contohnya mau lahir langsung tajir seperti anaknya rafiahmad, bilgets, atau yang punya fesbuk, si markzugesberg (jangan protes soal saya nulis nama, yang penting paham).

Di luar hal itu, ada hal-hal yang bisa kita kendalikan dengan usaha jerih payah yang tidak kenal lelah, seperti skill atau keterampilan yang bisa dipergunakan untuk mencari pundi-pundi kemakmuran, ya kalo mau di bandingkan aple to aple sama horang kaya mah banyak makan ati. Padahal sebenarnya, kita gak lagi lomba dengan si Bill gets dalam hal kekayaan kan? Tiap orang punya ladang perjuangan masing-masing dan kalo kita terlalu sibuk ngiler sama rumput tetangga, kita lupa sama rumput kita, eh maksudnya potensi yang kita punya.

Hmmm…tulisane amburadul juga, maklum lama gak nulis. Dah gitu azaaa.

Categories
Uncategorized

Privilage

Menurut penelitian orang kaya lebih gampang sukses dan lebih banyak penghasilan dari pada golongan yang kurang mampu. Karena orang kaya punya privilage (kelebihan), privilage ini seperti tambahan point di awal. Jika orang miskin star nya mulai angka 0, orang kaya startnya dari 3, 5 dan seterusnya tergantung privilage (kelebihannya). Tanpa kerja keras dan nilai bagus yang kurang mampu gak bisa masuk fakultas kedokteran, karena cuma ngandalin beasiswa. Atau jikapun memang anaknya cerdas, tapi gak dapat beasiswa, tetap gak bisa masuk fakultas kedokteran yang mahal itu. Sedangkan yang punya privilage, punya uang, tanpa beasiswa tetap bisa masuk fakultas kedokteran. Makanya orang kaya lebih gampang sukses dan lebih banyak penghasilnnya.

Tapi kabar baiknya, privilage itu banyak macamnya, jadi orang tua bisa kasih privilage dalam bentuk lain. Misal ngasih regulasi anak belajar, memotivasi anak belajar, ngasih tahu anak kalau pendidikan itu penting, sehingga tumbuh jiwa belajar dalam diri anak tersebut.

Kalau mau mengubah nasib, mesti ditanamkan sejak dini. Mencintai ilmu dan pendidikan adalah kunci mengubah nasib. Orang tua harus terlebih dahulu paham akan pentingnya pendidikan, karena cuma sebagian anak yang ngerti pentingnya pendidikan itu pun karena memang hobinya belajar. Begitu gak lulus universitas bagus barulah anak itu sadar, ternyata belajar itu perlu. Ternyata untuk sadar akan pentingnya belajar/pendidikan ada fasenya. Karena itu jangan sempat sadarnya pas udah kuliah. Nah selama fase anak gak sadar disinilah peran orang tua, orang tua mesti mengontrol.

Ibaratnya gini, anak yang dipaksa orang tuanya main piano diwaktu kecil, padahal anaknya gak suka, maunya main terus. Tapi begitu udah jadi pianis besar, misalnya di usia 15 tahun anak itu mungkin berkata ‘aku bersyukur orang tua ku dulu mengenalkanku piano, padahal dulu aku gak sukak, sekarang aku udah sampai disini’.

Kemudian bandingkan anak itu dengan sosok lain yang baru menemukan hidupnya di usia 25 tahun, dia ingin belajar piano di usia yang udah tergolong telat. Anak 15 tahun lebih hebat dari pada yang berusia 25 tahun.

Pertanyaannya gmana kalau anak gak suka, bukan disitu keinginannya ? bukan kah kita menyiksa anak? Tugas orang tua hanya memberikan bekal, kalau dia udah besar merasa piano bukan pilihan hidupnya ya sudah gak masalah, tapi suka gak suka dia udah punya skill.

Lanjut pembahasan paragraf pertama. Kalau mau ngubah nasib, salah satu kuncinya pendidikan. Orang tua dan anak harus punya visi sama, jika anak ingin masuk perguruan tinggi bergengsi, orang tua juga punya visi gmana supya anaknya masuk perguruan tinggi bergengsi. Orang tua harus memberi regulasi, kita gak membahas uang, tapi lebih ke dukungan, kontrol, memberikan ruang belajar, kebebasan belajar sehingga anak itu bisa berprestasi disekolah. Kalau udah berprestasi disekolah, biasanya masuk perguruan tinggi bergengsi, dapat biasanya dapat beasiswa, kalau udah dapat universitas yang keren semakin mudah dapat beasisw S2, S3 bahkan sampai ke luar negeri.

Jadi kuncinya saling sinergy antara anak dan orang tua. life not fair, get used to it

Categories
Uncategorized

Belajar PHP Dasar dari Script Laravel

Sebelumnya di blog ini saya pernah membahas tentang cara belajar ‘Top Down’. nah sekarang kita akan belajar metode tersebut. Kita akan belajar php dasar dari laravel.

  1. Cara mengetahui nama class, menggunakan static:class,

2. Cara mengetahui jumlah argument pada sebuah fungsi.

3. Cara mengetahui apakah suatu instance tertentu merupakan instance dari class tertentu.

4. Cara mengetahui apakah suatu method terdapat pada class tertentu

cukup itu dulu ya gan, kapan-kapan kita kita bahas lagi..

Categories
Uncategorized

– Doa ku di moment lebaran ini – 😊

“Buat saya, keluarga, teman-teman semoga sehat-sehat selalu, ditahun ini semoga semuanya mendapatkan momen eurekanya masing-masing, baik masalah jodoh, pekerjaan, maupun bisnis”.

“Buat pribadi, semoga semakin sadar akan posisi sebagai hamba, semoga semakin mandiri, dan bisa lebih banyak memberi”..”Selamat Lebaran, Mohon maaf lahir dan batin” dari saya”